Semua ini bermula ketika sekolah Swakarya
mendapatkan satu lagi Asset berharga seorang murid yang berprestasi. Seorang
siswa pindahan dari sekolah internasional bernama Putra. Pesona Putra membuat
seisi kelas barunya yang tidak lain adalah kelas Citra bergetar. Semua mata
tertuju padanya saat ia memperkenalkan diri di depan kelas. Selain wajahnya
yang tampan, perilakunya yang sopan ia juuga sudah sangat fasih berbicara
bahasa inggris yang tidak lain adalah bahasa sehari-hari sekolah lamanya.
Jam istirahat
adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh Clara dan teman-temannya, apalagi selain
untuk mendekati Putra yang seketika menjadi idola baru dikelas ini.
“Hai Putra kenalkan namaku Clara aku ketua ekskul Dance di sekolah ini loh”
“Oh hai juga aku Putra salam kenal ya” Jawab Putra dengan
ramah.
“Putra kamu ini pindahan dari sekolah Internasional ya? Kenapa
bisa pindah ke sekolah ini?” Tanya
Clara.
“ Oh itu, Karena..”
“Heh udah deh jangan banyak Tanya, udah pergi sana Putra ini
lagi bantuin gue ngerjain tugas remedial Matematika tau !” Sahut Rifki sebelum
Putra selesai menjawab pertanyaan dari Clara.
“Heh enak aja lagian siapa suruh di remed? Ya udah deh Putra,
aku pergi dulu ya lain kali kita sambung lagi ngobrolnya, oke?” Balas Clara
sambil berlalu meninggalkan mereka bersama teman-temannya.
Kemudian Citra
datang menghampiri Putra dan Rifki yang telah menjadi teman semeja ini, Citra
datang seraya berkata
“Rifki, tadi aku bertemu dengan Bu Murti beliau menanyakan
tentang tugas remedial kamu yang belum kamu kumpulkan. Ada yang bisa aku bantu
gak?”
“Oh iya makasih banyak ya, Cit. Tapi tugas aku hampir selesai
karena Putra telah membantuku” jelas Rifki.
“Kenalkan namaku Citra. Wah ternyata kamu juga mahir
matematika ya?”
“Tidak sehebat yang kamu pikirkan kok, kebetulan bab ini sudah
dipelajari disekolah lamaku.” Jawab Putra
“Wah jangan merendah, bab ini termasuk bab yang sulit untuk
dipelajari. Aku saja hampir terjebak di soal-soal bab ini.”
“Iya benar Put. Citra saja yang menjadi juara di kelas ini
hampir terjebak, jadi tidak heran kan kalau aku di remed?” Sambung Rifki.
“Jangan begitu Rifki mungkin karena kamu kurang teliti aja,
makanya sering latihan soal jangan on
line aja kerjaannya!. Goda Citra.
“Iya, iya Bu Guruuuu... Jawab rifki yang memerah mukanya.
“Ternyata kamu ini juara kelas ya? Aku mohon bantuannya ya
apabila aku menemukan kesulitan dalam pelajaran” Ujar Putra.
“Iya itu hanya kebetulan saja, mungkin kita bisa bekerja sama
apabila menemukan kesulitan dalam belajar” Jawab Citra.
Perbincangan
antara Putra, Citra dan Rifki untuk pertama kalinya ini tidak disangka menjadi
awal persahabatan antara mereka. Setiap hari mereka juga Suci yang tidak lain
adalah ketua kelas ini sering berdiskusi pelajaran atau hanya sekedar untuk
ngobrol dan tertawa bersama menceritakan kejadian-kejadian lucu yang pernah mereka
alami. Suci dikenal sebagai perempuan yang tegas, supel dan disiplin, oleh
karena itu tidak heran kalau Suci menjabat sebagai ketua dikelas ini.
Semakin hari
mereka semakin akrab utamanya Citra dan Putra, mereka memang lebih akrab
dibanding kedua teman mereka yang lainnya, karena rumah mereka kebetulan satu
arah maka mereka lebih sering sering pulang bersama sambil menceritakan semua
tentang mereka. Mulai dari masalah-masalah pelajaran, keluarga, agama, serta
pengalaman Putra menjadi murid disekolah Internasional.
Hari demi
hari mereka lalui bersama, suatu rasa pun menghampiri mereka, satu rasa yang
dinamakan cinta tak bisa mereka hindari.
Keberanian Putra untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Citra, membuat
Citra yang seketika itu menjadi senang, tidak terbayangkan ia merasa menjadi
perempuan yang paling bahagia di dunia, begitu pula dengan Putra yang merasa
sangat beruntung karena bisa bisa dicintai oleh perempuan yang manis, pintar,
dan menjadi panutan dikelas.
Putra ingin
sekali menceritakan hal bahagia ini kepada sahabatnya Rifki. Ketika ia hendak
menuju ke rumah Rifki, tiba-tiba handphone nya berdering, ternyata Rifki
menelpon Putra untuk segera datang kerumahnya karena ada yang ingin ia
ceritakan kepada Putra, “Wah kebetulan sekali” Ucap Putra.
Sesampainya
dirumah Rifki, terlihat Rifki sedang menanti kedatangan Putra diteras rumahnya.
Setelah mempersilahkan sahabatnya itu duduk dan menyediakan minuman serta
makanan kecil untuk mereka, Rifki yang terlihat tidak sesehat biasanya membuka
pembicaraan pada malam itu.
“Put, aku ingin membicarakan sesuatu hal sama kamu, tapi
please kamu jangan memberitahukan siapapun tentang masalah ini, bahkan Citra
dan Suci sekalipun, Oke?”
“Tenang aja sob, aku tidak akan bilang siapa-siapa, memangnya
ada masalah apa?
Oh iya, ada yang ingin aku ceritakan juga, tapi kamu duluan
aja deh.” Jawab Putra.
“Putra, aku ini sudah di vonis oleh dokter mengidap penyakit pembengkakan
hati yang sudah parah dan sampai hari ini pun pihak rumah sakit belum menemukan
hati yang cocok untuk menggantikan hatiku yang rusak ini, hal itu menandakan
bahwa hidup aku sudah tidak lama lagi.”
“Apa??? Waaah kamu jangan becanda kayak gini dong, ga
lucu!” Ujar Putra panic.
“Aku tidak becanda Putra, ini serius kematianku semakin dekat
dan hanya satu harapan yang ingin aku capai ku ingin menyatakan perasaan
cintaku yang sebenarnya kepada perempuan impianku sebelum ajal menjemputku,
ingin kubuat ia bahagia selalu, ingin kulihat senyum indahnya yang tak pernah
sirna dari wajah cantiknya, ku ingin selau melindunginya hingga akhir hayatku.”
Ujar Rifki sambil menatap indahnya langit yang bertaburan bintang pada malam
itu.
“Rifki sahabatku, adakah satu hal yang mungkin bisa aku bantu?
Mungkin aku bisa membantumu untuk menyatakan perasaan cintamu itu tapi siapa
sesunggunya wanita beruntung itu?” Tanya Putra.
“Citra, dialah orangnya. Sudah lama aku mengagumi
kecantikannya,kebaikan,serta ketulusan hatinya,hanya dia yang selama ini ada
dalam hati dan pikiranku. Citralah yang menghiasi setiap mimpi dalam tidurku,
sejak lama aku kenal dia, hanya dialah semangat hidupku.”
Putra sangat
terkejut terhadap pernyataan sahabatnya itu, ia merasa menjadi orang yang
sangat bodoh yang tidak bisa membaca perasaan sahabatnya itu, sampai pada
akhinya ia pun sudah mencintai Citra seperti halnya Rifki mencintai Citra.
Seketika itu juga Putra lemas dan terpaku, sesekali ia hanya meng-iya-kan
apabila Rifki bercerita tentang hal lainnya.
Keesokkan
harinya di sekolah Rifki tetap ceria seperti biasanya ia menunjukkan hasil
gambar animasi baru buatannya ke Citra, animasi itu menggambarkan cerita
persahabatan mereka berempat. Hal itu membuat hati Putra semakin miris, dalam
benaknya berpikir
“ Andai saja mereka bisa bersatu, andai saja aku tidak
tiba-tiba hadir di dalam kehidupan mereka , dan andai saja rasa cinta dan
sayangku ini bisa hilang terhadap Citra, aku sayang Citra aku cinta dia, namun
apa yang harus aku lakukan demi sahabatku” pikir Putra.
Sehari
setelah kejadian itu sikap Putra aneh, dan seakan menjauhi Citra, memang bukan
ini yang sesungguhnya ia inginkan, tapi demi sahabatnya itu bahagia apapun akan
ia lakukan. Karena sudah penat dan bingungnya perasaan Putra, ia pun berniat
berlibur untuk menghilangkan kejenuhannya, seraya berharap kepergiannya itu
sementara dapat memberikan kesempatan kepada Rifki untuk mendekati Citra.
Hari ini
berikutnya kelas terasa amat berbeda tanpa kehadiran Putra, apalagi bagi Citra
yang merasa arjunanya hilang tanpa kabar.
“Aku tak mengira cinta akan membuatku menjadi seperti ini.
Resah yang melelahkan. Semua yang menggumpal bersama ridnu yang tak terbalas.
Mana cinta yang dibilang manis? nyatanya ia pergi tanpa kabar.” Jerit Citra
dalam hati.
Kemudian
Rifki datang dan menceritakan bahwa Putra telah memberi kabar kepadanya, bahwa
Putra sedang berlibur ke kampung halamannya. Hati Citra pun merasa lega. Rifki
kemudian mengajak Citra dan Suci jalan-jalan ke tempat rekreasi. Sebenarnya ada
maksdu tertentu ia mengajak dua sahabatnya itu refreshing, Rifki merasa inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan
perasaannya terhadap Citra.
Sesampainya
di tempat tujuan, mereka bertiga mencoba permainan flying fox, tibalah giliran
Suci. Suci sangat takut dengan ketinggian, namun rasa penasarannya itu
mengalahkan rasa takutnya. Rifki dan Citra sangat senang melihat wajah
ketakutan namun penasaran sahabatnya itu.
“Inilah saat yang tepat!” Ujar Rifki dalam hati.
“Citra ada yang ingin ku sampaikan padamu, aku ingin
membicarakan satu hal,yang telah lama ku pendam selama ini”
“katakan saja Rifki, tak usah sungkan.” Sahut Citra.
“Citra jujur ku katakan kepadamu bahwa sejak pertama kali kita
bertemu, pertama kali kamu memanggil namaku, saat itulah aku merasakan suatu rasa
yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kamulah perempuan pertama yang
menghiasi hidupku. Dan aku ingin kamu bisa menerima cinta tulus dari hatiku ini”
Ungkap Rifki.
“Rifki sungguh aku berterima kasih padamu yang sudah berani
mengungkapan perasaanmu, namun ada seorang yang sudah mengisi kekosongan
hatiku, dan itu Putra. Sungguh aku sayang padamu, namun hanya sebatas sahabat
dan tidak lebih, kamu juga berarti dalam hidupku, maka dari itu aku mohon kamu
bisa mengerti semua ini, dan setelah ini pun kita masih bisa bersahabat seperti
dulu kan?” jawab Citra.
“Putra? Sudah ku duga sejak lama bahwa kalian memang ada
hubungan khusus, namun mengapa Putra tidak menceritakannya kepadaku? Aku
mencintai kamu tulus dan tidak mengharapkan balasan apapun darimu, aku tetap
sayang kamu, walau kita hanya sebatas sahabat.” Ujar Rifki.
Tiba-tiba
Suci datang dengan tergesa-gesa terlihat air mata membasahi kedua pipinya. Suci
menerima kabar bahwa sahabatnya Putra telah mengalami sebuah kecelakaan dan
sekarang kondisinya sedang kritis di rumah sakit. Citra dan Rifki amat terkejut
dan mereka langsung melesat ke rumah sakit.
Setibanya di
rumah sakit terlihat Putra dalam kondisi yang memperihatinkan, ketiga
sahabatnya itu berdiri disekitar Putra.
“Citra maafkan aku, waktuku sudah dekat aku tidak dapat lagi
melindungimu, namun percayalah hanya kamu yang ada dihatiku hingga akhir
waktuku.”ucap Putra dengan terbata-bata. Citra tidak mampu berkata-kata lagi,
hanya air mata yang membasahi kedua pipinya dan isak tangis tidak dapat tertahankan
lagi.
“Rifki kamulah sahabat terbaikku, aku tau kamu sangat
menyayangi dan mencintai Citra, maukah kamu menjaganya untukku, oleh karna itu
izinkanlah aku menitipkan semua kisah cinta kita ini selamanya.”
Itulah
kalimat terakhir yang dapat diucapkan Putra, seraya menyatukan tangan Rifki dan
Citra dengan kedua tangannya. Ia akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya
dengan keikhlasan hatinya dan tenang dalam tidur panjangnya. Akhirnya Rifki
menepati janji dan permintaan terakhir sahabatnya, dengan izin Tuhan ia dapat
hidup lebih lama lagi karna Putra telah mendonorkan hatinya untuk Rifki. Citra
merasa amat kehilangan, namun ia merasa Putra selalu ada didekatnya, di dalam
jiwa Rifki ia melihat sosok Putra turut hadir menemaninya setiap waktu dan
setiap saat.
Suatu sore
yang indah di bawah lembayung senja, Citra dan Rifki mengenang sosok yang
sangat istimewa bagi keduanya itu.
“Putra kamu akan selalu ada dihati kami, aku tahu kamu lakukan
semua ini karna kamu sangat mencintai Citra, semua ini kamu lakukan demi
cinta.” Ujar Rifki sambil menaburkan bunga di atas tempat peristirahatan
terakhir sahabatnya itu.
-THE END-
Created
by : Tiara Ekawati Po Wijaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar