Mengenai Saya

Jumat, 25 Januari 2013

Demi Cinta



            Semua ini bermula ketika sekolah Swakarya mendapatkan satu lagi Asset berharga seorang murid yang berprestasi. Seorang siswa pindahan dari sekolah internasional bernama Putra. Pesona Putra membuat seisi kelas barunya yang tidak lain adalah kelas Citra bergetar. Semua mata tertuju padanya saat ia memperkenalkan diri di depan kelas. Selain wajahnya yang tampan, perilakunya yang sopan ia juuga sudah sangat fasih berbicara bahasa inggris yang tidak lain adalah bahasa sehari-hari sekolah lamanya.
            Jam istirahat adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh Clara dan teman-temannya, apalagi selain untuk mendekati Putra yang seketika menjadi idola baru dikelas ini.
“Hai Putra kenalkan namaku Clara aku ketua ekskul Dance di sekolah ini loh”
“Oh hai juga aku Putra salam kenal ya” Jawab Putra dengan ramah.
“Putra kamu ini pindahan dari sekolah Internasional ya? Kenapa bisa pindah ke sekolah ini?”  Tanya Clara.
“ Oh itu, Karena..”
“Heh udah deh jangan banyak Tanya, udah pergi sana Putra ini lagi bantuin gue ngerjain tugas remedial Matematika tau !” Sahut Rifki sebelum Putra selesai menjawab pertanyaan dari Clara.
“Heh enak aja lagian siapa suruh di remed? Ya udah deh Putra, aku pergi dulu ya lain kali kita sambung lagi ngobrolnya, oke?” Balas Clara sambil berlalu meninggalkan mereka bersama teman-temannya.
            Kemudian Citra datang menghampiri Putra dan Rifki yang telah menjadi teman semeja ini, Citra datang seraya berkata
“Rifki, tadi aku bertemu dengan Bu Murti beliau menanyakan tentang tugas remedial kamu yang belum kamu kumpulkan. Ada yang bisa aku bantu gak?”
“Oh iya makasih banyak ya, Cit. Tapi tugas aku hampir selesai karena Putra telah membantuku” jelas Rifki.
“Kenalkan namaku Citra. Wah ternyata kamu juga mahir matematika ya?”
“Tidak sehebat yang kamu pikirkan kok, kebetulan bab ini sudah dipelajari disekolah lamaku.” Jawab Putra
“Wah jangan merendah, bab ini termasuk bab yang sulit untuk dipelajari. Aku saja hampir terjebak di soal-soal bab ini.”
“Iya benar Put. Citra saja yang menjadi juara di kelas ini hampir terjebak, jadi tidak heran kan kalau aku di remed?” Sambung Rifki.
“Jangan begitu Rifki mungkin karena kamu kurang teliti aja, makanya sering latihan soal jangan on line aja kerjaannya!. Goda Citra.
“Iya, iya Bu Guruuuu... Jawab rifki yang memerah mukanya.
“Ternyata kamu ini juara kelas ya? Aku mohon bantuannya ya apabila aku menemukan kesulitan dalam pelajaran” Ujar Putra.
“Iya itu hanya kebetulan saja, mungkin kita bisa bekerja sama apabila menemukan kesulitan dalam belajar” Jawab Citra.
            Perbincangan antara Putra, Citra dan Rifki untuk pertama kalinya ini tidak disangka menjadi awal persahabatan antara mereka. Setiap hari mereka juga Suci yang tidak lain adalah ketua kelas ini sering berdiskusi pelajaran atau hanya sekedar untuk ngobrol dan tertawa bersama menceritakan kejadian-kejadian lucu yang pernah mereka alami. Suci dikenal sebagai perempuan yang tegas, supel dan disiplin, oleh karena itu tidak heran kalau Suci menjabat sebagai ketua dikelas ini.
            Semakin hari mereka semakin akrab utamanya Citra dan Putra, mereka memang lebih akrab dibanding kedua teman mereka yang lainnya, karena rumah mereka kebetulan satu arah maka mereka lebih sering sering pulang bersama sambil menceritakan semua tentang mereka. Mulai dari masalah-masalah pelajaran, keluarga, agama, serta pengalaman Putra menjadi murid disekolah Internasional.
            Hari demi hari mereka lalui bersama, suatu rasa pun menghampiri mereka, satu rasa yang dinamakan cinta tak bisa mereka hindari.  Keberanian Putra untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Citra, membuat Citra yang seketika itu menjadi senang, tidak terbayangkan ia merasa menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia, begitu pula dengan Putra yang merasa sangat beruntung karena bisa bisa dicintai oleh perempuan yang manis, pintar, dan menjadi panutan dikelas.
            Putra ingin sekali menceritakan hal bahagia ini kepada sahabatnya Rifki. Ketika ia hendak menuju ke rumah Rifki, tiba-tiba handphone nya berdering, ternyata Rifki menelpon Putra untuk segera datang kerumahnya karena ada yang ingin ia ceritakan kepada Putra, “Wah kebetulan sekali” Ucap Putra.
            Sesampainya dirumah Rifki, terlihat Rifki sedang menanti kedatangan Putra diteras rumahnya. Setelah mempersilahkan sahabatnya itu duduk dan menyediakan minuman serta makanan kecil untuk mereka, Rifki yang terlihat tidak sesehat biasanya membuka pembicaraan pada malam itu.
“Put, aku ingin membicarakan sesuatu hal sama kamu, tapi please kamu jangan memberitahukan siapapun tentang masalah ini, bahkan Citra dan Suci sekalipun, Oke?”
“Tenang aja sob, aku tidak akan bilang siapa-siapa, memangnya ada masalah apa?
Oh iya, ada yang ingin aku ceritakan juga, tapi kamu duluan aja deh.” Jawab Putra.
“Putra, aku ini sudah di vonis oleh dokter mengidap penyakit pembengkakan hati yang sudah parah dan sampai hari ini pun pihak rumah sakit belum menemukan hati yang cocok untuk menggantikan hatiku yang rusak ini, hal itu menandakan bahwa hidup aku sudah tidak lama lagi.”
“Apa??? Waaah kamu jangan becanda kayak gini dong, ga lucu!”  Ujar Putra panic.
“Aku tidak becanda Putra, ini serius kematianku semakin dekat dan hanya satu harapan yang ingin aku capai ku ingin menyatakan perasaan cintaku yang sebenarnya kepada perempuan impianku sebelum ajal menjemputku, ingin kubuat ia bahagia selalu, ingin kulihat senyum indahnya yang tak pernah sirna dari wajah cantiknya, ku ingin selau melindunginya hingga akhir hayatku.” Ujar Rifki sambil menatap indahnya langit yang bertaburan bintang pada malam itu.
“Rifki sahabatku, adakah satu hal yang mungkin bisa aku bantu? Mungkin aku bisa membantumu untuk menyatakan perasaan cintamu itu tapi siapa sesunggunya wanita beruntung itu?” Tanya Putra.
“Citra, dialah orangnya. Sudah lama aku mengagumi kecantikannya,kebaikan,serta ketulusan hatinya,hanya dia yang selama ini ada dalam hati dan pikiranku. Citralah yang menghiasi setiap mimpi dalam tidurku, sejak lama aku kenal dia, hanya dialah semangat hidupku.”
            Putra sangat terkejut terhadap pernyataan sahabatnya itu, ia merasa menjadi orang yang sangat bodoh yang tidak bisa membaca perasaan sahabatnya itu, sampai pada akhinya ia pun sudah mencintai Citra seperti halnya Rifki mencintai Citra. Seketika itu juga Putra lemas dan terpaku, sesekali ia hanya meng-iya-kan apabila Rifki bercerita tentang hal lainnya.
            Keesokkan harinya di sekolah Rifki tetap ceria seperti biasanya ia menunjukkan hasil gambar animasi baru buatannya ke Citra, animasi itu menggambarkan cerita persahabatan mereka berempat. Hal itu membuat hati Putra semakin miris, dalam benaknya berpikir
“ Andai saja mereka bisa bersatu, andai saja aku tidak tiba-tiba hadir di dalam kehidupan mereka , dan andai saja rasa cinta dan sayangku ini bisa hilang terhadap Citra, aku sayang Citra aku cinta dia, namun apa yang harus aku lakukan demi sahabatku” pikir Putra.
            Sehari setelah kejadian itu sikap Putra aneh, dan seakan menjauhi Citra, memang bukan ini yang sesungguhnya ia inginkan, tapi demi sahabatnya itu bahagia apapun akan ia lakukan. Karena sudah penat dan bingungnya perasaan Putra, ia pun berniat berlibur untuk menghilangkan kejenuhannya, seraya berharap kepergiannya itu sementara dapat memberikan kesempatan kepada Rifki untuk mendekati Citra.
            Hari ini berikutnya kelas terasa amat berbeda tanpa kehadiran Putra, apalagi bagi Citra yang merasa arjunanya hilang tanpa kabar.
“Aku tak mengira cinta akan membuatku menjadi seperti ini. Resah yang melelahkan. Semua yang menggumpal bersama ridnu yang tak terbalas. Mana cinta yang dibilang manis? nyatanya ia pergi tanpa kabar.” Jerit Citra dalam hati.
            Kemudian Rifki datang dan menceritakan bahwa Putra telah memberi kabar kepadanya, bahwa Putra sedang berlibur ke kampung halamannya. Hati Citra pun merasa lega. Rifki kemudian mengajak Citra dan Suci jalan-jalan ke tempat rekreasi. Sebenarnya ada maksdu tertentu ia mengajak dua sahabatnya itu refreshing, Rifki merasa inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Citra.
            Sesampainya di tempat tujuan, mereka bertiga mencoba permainan flying fox, tibalah giliran Suci. Suci sangat takut dengan ketinggian, namun rasa penasarannya itu mengalahkan rasa takutnya. Rifki dan Citra sangat senang melihat wajah ketakutan namun penasaran sahabatnya itu.
“Inilah saat yang tepat!” Ujar Rifki dalam hati.
“Citra ada yang ingin ku sampaikan padamu, aku ingin membicarakan satu hal,yang telah lama ku pendam selama ini”
“katakan saja Rifki, tak usah sungkan.” Sahut Citra.
“Citra jujur ku katakan kepadamu bahwa sejak pertama kali kita bertemu, pertama kali kamu memanggil namaku, saat itulah aku merasakan suatu rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kamulah perempuan pertama yang menghiasi hidupku. Dan aku ingin kamu bisa menerima cinta tulus dari hatiku ini” Ungkap Rifki.
“Rifki sungguh aku berterima kasih padamu yang sudah berani mengungkapan perasaanmu, namun ada seorang yang sudah mengisi kekosongan hatiku, dan itu Putra. Sungguh aku sayang padamu, namun hanya sebatas sahabat dan tidak lebih, kamu juga berarti dalam hidupku, maka dari itu aku mohon kamu bisa mengerti semua ini, dan setelah ini pun kita masih bisa bersahabat seperti dulu kan?” jawab Citra.
“Putra? Sudah ku duga sejak lama bahwa kalian memang ada hubungan khusus, namun mengapa Putra tidak menceritakannya kepadaku? Aku mencintai kamu tulus dan tidak mengharapkan balasan apapun darimu, aku tetap sayang kamu, walau kita hanya sebatas sahabat.” Ujar Rifki.
            Tiba-tiba Suci datang dengan tergesa-gesa terlihat air mata membasahi kedua pipinya. Suci menerima kabar bahwa sahabatnya Putra telah mengalami sebuah kecelakaan dan sekarang kondisinya sedang kritis di rumah sakit. Citra dan Rifki amat terkejut dan mereka langsung melesat ke rumah sakit.
            Setibanya di rumah sakit terlihat Putra dalam kondisi yang memperihatinkan, ketiga sahabatnya itu berdiri disekitar Putra.
“Citra maafkan aku, waktuku sudah dekat aku tidak dapat lagi melindungimu, namun percayalah hanya kamu yang ada dihatiku hingga akhir waktuku.”ucap Putra dengan terbata-bata. Citra tidak mampu berkata-kata lagi, hanya air mata yang membasahi kedua pipinya dan isak tangis tidak dapat tertahankan lagi.
“Rifki kamulah sahabat terbaikku, aku tau kamu sangat menyayangi dan mencintai Citra, maukah kamu menjaganya untukku, oleh karna itu izinkanlah aku menitipkan semua kisah cinta kita ini selamanya.”
            Itulah kalimat terakhir yang dapat diucapkan Putra, seraya menyatukan tangan Rifki dan Citra dengan kedua tangannya. Ia akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan keikhlasan hatinya dan tenang dalam tidur panjangnya. Akhirnya Rifki menepati janji dan permintaan terakhir sahabatnya, dengan izin Tuhan ia dapat hidup lebih lama lagi karna Putra telah mendonorkan hatinya untuk Rifki. Citra merasa amat kehilangan, namun ia merasa Putra selalu ada didekatnya, di dalam jiwa Rifki ia melihat sosok Putra turut hadir menemaninya setiap waktu dan setiap saat.
            Suatu sore yang indah di bawah lembayung senja, Citra dan Rifki mengenang sosok yang sangat istimewa bagi keduanya itu.
“Putra kamu akan selalu ada dihati kami, aku tahu kamu lakukan semua ini karna kamu sangat mencintai Citra, semua ini kamu lakukan demi cinta.” Ujar Rifki sambil menaburkan bunga di atas tempat peristirahatan terakhir sahabatnya itu.

-THE END-


Created by : Tiara Ekawati Po Wijaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar